Sabtu, 28 April 2012

Model-Model Konseling

Rational Emotive Therapy (RET)


RET dikembangkan oleh seorang eksistensialis Albert Ellis pada tahun 1962. RET yang menolak pandangan aliran psikoanalisis berpandangan bahwa peristiwa dan pengalaman individu menyebabkan gangguan emosional. Menurut Ellis bukanlah pengalaman atau peristiwa eksternal yang menimbulkan emosional, akan tetapi tergantung kepada pengertian yang diberikan terhadap peristiwa atau pengalaman itu. Gangguan emosi terjadi disebabkan pikiran-pikiran seorang yang bersifat irrasional terhadap peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya.
Konsep dasar RET yang dikembangkan oleh Albert Ellis adalah sebagai berikut:
1. Pemikiran manusia adalah penyebab dasar dari gangguan emosional.
2. Manusia mempunyai potensi pemikiran rasional dan irrasional.
3. Pemikiran irrasional bersumber pada disposisi biologis lewat pengalaman masa kecil dan pengaruh budaya.
4. Pemikiran dan emosi tidak dapat dipisahkan.
5. Berpikir logis dan tidak logis dilakukan dengan simbol-simbol bahara.
6. Pada diri manusia sering terjadi Self-verbalization. Yaitu mengatakan sesuatu terus-menerus kepada dirinya.
7. Pemikiran tak logis-irrasional dapat dikembalikan kepada pemikiran logis dengan reorganisasi persepsi.
1. Tujuan Terapi
RET bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan klien yang irrasional menjadi rasional, sehingga ia dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi diri yang optimal. Menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri seperti: benci, rasa takut, rasa bersalah, cemas, was-was, marah.
2. Proses Terapi (Konseling)
1. Konselor berusaha menunjukan klien kesulitan yang dihadapi sangat berhubungan dengan keyakinan irrasional, dan menunjukan bagaimana klien harus bersikap rasional dan mampu memisahkan keyakinan irrasional dengan rasional.
2. Setelah lien menyadari gangguan emosi yang bersumber dari pemikiran irrasional, maka konselor men unjukan pemikiran klien yang irrasional, serta klien berusaha mengubah kepada keyakinan menjadi rasional.
3. Konselor berusaha agar klien menghindarkan diri dari ide-ide irrasionalnya, dan konselor berusaha menghubungkan antara ide tersebut dengan proses penyalahan dan perusakan diri.
4. Proses terakhir konseling adalah konselor berusaha menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupan yang irrasional dan fiktif.
5. Beberapa komponen penting dalam prilaku irrasional dapat dijelaskan dengan simbol-simbol berkut:
A= Activating event atau peristiwa yang menggerakan individu.
iB= Irrational Belief, keyakinan irrasional terhadap A.
iC= Irrational Consequences, konsekuensi dari pemikiran irrasional terhadap emosi, melalui self-verbalization.
D= Dispute irrasional belief, keyakinan yang saling bertentangan.
CE= Cognitive Effect, efek kognitif yang terjadi karena perentangan dalam keyakinan irrasional.
BE= Behavioral Effect, terjadi perubahan prilaku karena keyakinan irrasional.
3. Teknik-Teknik Konseling
Berikut ini beberapa teknik konseling RET yang dapat diikuti, antara lain adalah teknik yang berusaha menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri (berdasarkan emotive experiential) yang terdiri atas:
1. anniAssertive training. Yaitu melatih dan membiasakan klien terus-menerus menyesuaikan diri dengan prilaku tertentu yang diinginkan.
2. Sosiodarma. Yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan social.
3. Self modeling. Yaitu teknik yang bertujuan menghilangkan prilaku tertentu, dimana konselor menjadi model dank lien berjanji akan mengikuti.
4. Social modeling. Yaitu membentuk prilaku baru melalui model social denag cara imitasi, observasi.
5. Teknik reinforcement. Yaitu memberi reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatnya (reinforce).
6. Desensitisasi sistematik
7. Relaxation.
8. Self-control. Yaitu dengan mengontrol diri.
9. Diskusi.
10. Simulasi, dengan bermain peran antara konselor dengan klien .
11. Homework assignment ( metode tugas).
12. Bibliografi (member bahan bacaan).

Logo Therapy Frankl


Terapi logo (logo Therapy) dikembangkan oleh Frankl tahun 1938 ketika ia menjadi tawanan di kamp Nazi bersama tawanan Yahudi lainnya.
Makna hidup itu harus dicari oleh manusia. Didalam makna tersebut tersimpan nilai-nilai yaitu: (1). Nilai kreatif, (2) nilai pengalaman, (3) nilai sikap.
1. Tujuan Terapi
Terapi logo bertujuan agar dalam masalah yang dihadapi klien, dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut.
2. Teknik Konseling
Teknik logo masih menginduk kepada aliran psikoanalisis, akan tetapi menganut paham aliran eksistesialisme. Mengenai teknik konseling, digunakan semua teknik yang dikira sesuai dengan kasus yang dihadapi.

Terapi Behavioral


Terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan B.F. Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1985) untuk menanggulangi (treatment) neurosis. Dasar teori Behavioral adalah bahwa prilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi: (1). Belajar waktu lalu dalam hubungannya dengan keadaan yang serupa; (2). Keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap kepekaan terhadap lingkungan; (3). Perbedaan-perbedaan biologik baik secara genetik atau karena gangguan fisiologik.
Para konselor behavioral memandang kelainan prilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari. Karena itu dapat diubah dengan mangganti situasi positif yang direkayasa sehingga kelainan prilaku berubah menjadi positif.
1. Tujuan Konseling
Tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu klien membuang respon-respon yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat. Sedangkan tujuan terapi behavioral adalah untuk memperoleh prilaku baru, mengeleminasi prilaku yang maladatif dan memperkuat serta mempertahankan prilaku yang diinginkan.
2. Hubungan Klien dan Konselor
Dalam hubungan konselor dengan klien ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. konselor memahami dan menerima klien.
2. keduanya bekerjasama.
3. konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan klien.
3. Teknik-teknik Konseling
Didalam kegiatan konseling behavioral (prilaku), tidak ada suatu teknik konselingpun yang selalu harus digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dieliminasi dan diganti dengan teknik yang baru. Berikut ini dikemukakan beberapa teknik konseling behavioral.
1. Desensitisasi sitematik (systematic desensitization)
Teknik ini dikemukakan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua prilaku neurotic adalah ekspresi dan kecemasan.
Teknik desensitisasi sistematik bermaksud mengajar klien untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami klien. Teknik ini tidak dapat berjalan tanpa teknik relaksasi. Didalam konseling itu klien dajar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman-pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan, atau mengecewakan. Situasi yang disusun secara sistematis dai yang kurang mencemaskan hingga yang paling mencemaskan.
2. Assertive training
Assertive training, merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak dalam menyatakannya. Sebagai contoh ingin marah, tapi berespon manis.
Assertive training adalah suatu teknik untuk membantu klien dalam hal-hal berikut:
a. Tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelannya.
b. Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari padanya.
c. Mereka yang mengalami kesulitan dalm berkata “tidak”.
d. Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya.
e. Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya.
3. Aversion therapy
Teknik ini bertujuan untuk menghukum prilaku negative dan memperkuat perilaku positif.
4. Home-work
Yaitu suatu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu.

Terapi Gestalt


Terapi ini dikembangkan oleh Frederick S. Pearl (1894-1970) yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisis, fenomenologis, dan eksistensialisme sera psikologi gestalt.
Pertentangan antara keberadaan social dengan biologis merupakan konsep dasar Terapi Gestalt.
1. Tujuan Konseling
Menurut Teori Gestalt tujuan konseling adalah membantu klien menjadi individu yang merdeka dan berdiri sendiri.
2. Landasan Bagi Proses Konseling
Proses konseling mengikuti lima hal yang penting sebagai berikut:
1. Permulaan (patterning).
2. Pengawasan (control).
3. Potensi.
4. Kemanusiaan.
5. Kpercayaan.
3. Proses: Perubahan Prilaku Klien
1. Transisi, yaitu keadaan klien dari selalu ingi dibantu oleh lingkungan kepada keadaan berdiri sendiri.
2. Avoidance dan Unfinished Business, yang termasuk Unfinished Business ialah emosi-emosi, peristiwa-peristiwa, pemikiran-pemikiran, yang terlambat dikemukakan klien. Avoidance adalah segala sesuatu yang digunakan klien untuk lari dari Unfinished Business.
3. Impasse, yaitu individu atau konseling yang bingung, kecewa, terhambat.
4. Here and Now, yaitu penanganan adalah disini dan masa kini.
4. Proses dan Fase Konseling
1. Fase I. Membentuk pola pertemuan terapeutik agar terjadi situasi yang memungkinkan perubahan prilaku klien.
2. Fase II. Pengawasan, yaitu usaha konselor untuk meyakinkan klien untuk mengikuti prosedur konseling.
3. Fase III. Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dan kecemasannya.
4. Fase IV (terakhir). Setelah terjadi pemahaman diri maka pada fase ini klien harus sudah memilki kepribadian yang integral.

Terapi Terpusat Pada Klien


Clien-Centered Therapy sering juga disebut psikoterapi Non-Directive adalah suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan klien, agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri klien yang ideal) dengan actual self (diri klien dengan kenyataan yang sebenarnya). Ciri-ciri terapi ini adalah:
a. Ditujukan kepada klien yang sanggup memecahkan masalahnya agar tercapai kepribadian klien yang terpadu;
b. Sasaran konseling adalah aspek emosi dan perasaan (feeling), bukan segi intelektualnya;
c. Titik tolak konseling adalah keadaan individu termasuk kondisi social-psikologis masa kini (here and now), dan bukan pengalaman masa lalu;
d. Proses konseling bertujuan untuk menyesuaikan antara ideal-self dengan actual-self;
e. Peranan yang aktif dalam konseling dipegang oleh klien, sedangkan konselor adalah pasif-relektif, artinya tidak semata-mata diam dan pasif akan tetapi berusaha membantu agar klien aktif memecahkan masalahnya.
1. Tujuan Konseling
Terapi terpusat pada klien yang dikembangkan oleh Carl Ransom Rogers tahun 1942 bertujuan untuk membina kepribadian klien secara integral, berdiri sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalahnya sendiri.
2. Proses Konseling
Tahap-tahap konseling Terapi Terpusat Pada Klien:
1. Klien datang pada konselor atas kemauannya sendiri.
2. Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, untuk itu konselor menyadarkan klien.
3. Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan perasaannya.
4. Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.
5. Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya.
6. Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil.
7. Klien merealisasikan pilihannya itu.
3. Teknik Konseling
Penekanan masalah ini adalah dalam hal filosofis dan sikap konselor ketimbang teknik. Dan mengutamakan hubungan konseling ketimbang perkataan dan perbuatan konselor.

A. Pendekatan Psikoanalisis


Aliran Psikoanalisis dipelopori oleh Sigmund Frued (1896). Ia mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketaksadaran.
Pengertian Psikoanalisis mencakup tiga aspek : (1) sebagai metode penelitian proses-proses psikis; (2) sebagai suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis; (3) sebagai Teori Kepribadian.
Psikoanalisis mempunyai beberapa prinsip yaitu:
1. Prinsip konstansi
2. Prinsip kesenangan
3. Prinsip realitas
1. Dinamika Kepribadian
Struktur kepribadian menurut Frued terdiri dari id, ego, dan super ego. Frued menyebutkan bahwa id adalah sistem orisinil kepribadian yang berfungsi untuk menghindarkan ketakenakan untuk mendapatkan kenikmatan. Id sebagai titik temu energi tubuh dengan kepribadian. Id mengandung insting yang mendinamiskan kepribadian.
Akan diuraikan lebih jauh mengenai insting dan kecemasan.
a. Insting
Insting adalah suatu pernyataan psikologis dari suatu sumber perangsang somatic (badaniah) yang dibawa sejak lahir. Frued mengelompokkan insting menjadi dua jenis yaitu: (1) insting hidup, dan; (2) insting mati.
b. Kecemasan
Frued mengemukakan tiga kecemasan yaitu:
1. Kecemasan realitas, yaitu takut akan bahaya yang dating dari luar; cemas atau takut jenis ini bersumber dari ego.
2. Kecemasan neurotis, yakni kecemasan yang bersumber dari id, kalau-kalau insting tidak dapat dikendalikan sehingga menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum.
3. Kecemasan moral, yang bersumber pada sumber ego, kecemasan ini dinamakan juga kecemasan kata hati.
2. Proses Konseling
Garis-garis besar proses konseling psikoanlisis:
a. Tujuan Konseling
Tujuan konseling aliran psikoanalisis adalah untuk membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan hal yamg tak disadari menjadi sadar kembali.
b. Fungsi Konselor
Fungsi konselor adalah memperepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketaksadaran klien yang dilindungi dengan cara transferensi itu.
c. Proses Konseling
Secara sistematis proses konseling yang dikemukakan dalam urutan fase-fase konseling dapat diikuti berikut ini:
1. Membina hubungan konseling yang terjadi pada tahap awal konseling.
2. Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya, dan melakukan transferensi.
3. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya.
4. Pengembangan resistensi untuk pemahaman diri.
5. Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
6. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
7. Menutup wawancara konseling.
3. Teknik Konseling
Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisis yaitu:
1. Asosiasi Bebas
Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikirannya sehari-hari, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.
2. Interpretasi
Yaitu teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien.
3. Analisis Mimpi
Yaitu suatu teknik untuk membuka hal-hal yang tak disadari dan memberi kesempatan klien untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4. Analisis Resistensi
Analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensi.
5. Analisis Transferensi
Konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neurosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama hidupnya.

TEKNIK-TEKNIK KHUSUS KONSELING


1. Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.
2. Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.
3. Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
4. Pembentukan Perilaku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.
5. Permainan Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya :
Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak.
Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh.
Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”.
Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.
Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.
Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.
6. Latihan Saya Bertanggung Jawab
Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.
Misalnya :
“Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”
“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”.
“Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”
Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.
7. Bermain Proyeksi
Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.
8. Teknik Pembalikan
Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya.
Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.
9. Bertahan dengan Perasaan
Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
10. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
11. Adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
12. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
13. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
Sumber :
H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.Jakarta. PT Golden Terayon Press.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta

TEKNIK-TEKNIK UMUM KONSELING


A. Memimpin (leading)
Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling .
Contoh dialog :
Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Tapi bagaimana ya?”
Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?”
B. Fokus
Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Pada umumnya dalam wawancara konseling, klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Misalnya dengan mengatakan :
” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”.
Adabeberapa yang dapat dilakukan, diantaranya :
  1. Fokus pada diri klien. Contoh : ” Tanti, Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”.
  2. Fokus pada orang lain. Contoh : ” Roni, telah membuat kamu menderita, Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?”
  3. Fokus pada topik. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”.
  4. Fokus mengenai budaya. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki.”
C. Konfrontasi
Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan, ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan, dan sebagainya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur; (2) meningkatkan potensi klien; (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi; konflik, atau kontradiksi dalam dirinya.
Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati, yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat; (2) tidak menilai apalagi menyalahkan; (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati.
Contoh dialog :
Klien : ” Saya baik-baik saja”.(suara rendah, wajah murung, posisi tubuh gelisah).”
Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”.
D. Menjernihkan (Clarifying)
Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas dan agak meragukan. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas, dan dengan alasan-alasan yang logis, (2) agar klien menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.
Contoh dialog :
Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.”
Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah, ibu, atau saudara-saudara Anda.”
E. Memudahkan (facilitating)
Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Contoh :
” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.”
F. Diam
Teknik diam dilakukan dengan cara attending, paling lama 5 – 10 detik, komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir; (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit; (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.
Contoh dialog :
Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu”
Konselor :”…………..” (diam)
Klien :” Saya..harus bagaimana.., Saya.. tidak tahu..
Konselor :”…………..” (diam)
G. Mengambil Inisiatif
Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang parisipatif. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat; (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan; (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.
Contoh:
” Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan kembali”.
G. Memberi Nasehat
Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai.
Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab, dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.”
H. Pemberian informasi
Sama halnya dengan nasehat, jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pun konselor mengetahuinya, sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya.
Contoh :
” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas PendidikanIndonesia, saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.upi.com di internet”.
I. Merencanakan
Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action), perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien.
Contoh :
” Nah, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ”
J. Menyimpulkan
Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini, terutama mengenai kecemasan; (2) memantapkan rencana klien; (3) pemahaman baru klien; dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya, jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek.Bandung : Alfabeta
H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.Jakarta. PT Golden Terayon Press.
Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).Jakarta : PPPG

Pengertian Bimbingan Menurut Ahli



  1. Freank Parson, dalam Jones, 1951
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya.
  1. Dunsmoor dan Miller, dalam McDaniel, 1969
Bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan – kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaianyang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan
  1. Chiskolm, dalam McDaniel, 1959
Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.
  1. Smith, dalam McDaniel, 1959
Bimbingan adalah sebagai proses layanan yang diberikan kepada individu – individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan – pilihan, rencana – rencana, dan interpretasi – interpretasi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan baik
  1. Lefever, dalam McDaniel, 1959
Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatan dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman – pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat.
  1. Tiedman, dalam Bernard & Fullmer, 1969
Bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna, tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna.
  1. Mortensen & Schmuller, 1976
Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan – kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap individu dapat mengembangkan kemampuan dan kesanggupan sepenuhnya sesuai dengan ide demokrasi
  1. Bernard & Fullmer, 1969
Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu
  1. Matthewson, dalam Bernard & Fullmer, 1969
Bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik
  1. Jones, Staffire, & Dtewart, 1970
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam membuat pilihan – pilihan dan penyesuaian – penyesuaian yang bijaksana. Bantuan itu berdasar atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diwarisi, tetapi harus dikembangkan

PENGERTIAN BELAJAR MENURUT PARA AHLI


1.        Menurut Skinner ( 1985 )
Memberikan definisi belajar adalah “Learning is a process of progressive behavior adaption”. Yaitu bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif.
2.        Menurut Mc. Beach ( Lih Bugelski 1956 )
Memberikan definisi mengenai belajar. “Learning is a change performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).
3.        Menurut Morgan, dkk ( 1984 )
memberikan definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which accurs as a result of practice or experience.” Yaitu bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan  (practice) atau karena pengalaman ( experience ).
4.        Menurut Hilgarde dan Bower, dalam buku Theories of Learning, ( 1975 )
Mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respons pembawaan, pematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya.
5.        Menurut Thursan Hakim, Belajar Secara Efektif ( 2005 )
belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
1.      Menurut Margaret Gredler, 1994.
Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Sehingga peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang baru dan dapat meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya, mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadi benar, dan dari kurang baik menjadi baik.
2.      Menurut Riberu, 1982.
Belajar merupakan proses dan dalam proses ini orang berkenalan dengan salah satu pola lajkuatau memperbaiki salah satu pola laku yang telah dikuasainya. Belajar bisa berarti berkenalan dengan atau memperbaiki pemikiran, berkenalan dengan atau memperbaiki turturan bicara, berkenalan dengan atau memperbaiki tindakan/kegiatan.
3.      Menurut Skinner, 1985.
Belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta melalui proses tingkah laku yang bersifat progresif.
4.      Menurut Thursan Hakim.
Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
5.      Menurut Hilgarde dan Bower.
Mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respons pembawaan, pematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar